Kategori

Tampilkan postingan dengan label pengetahuan telekomunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan telekomunikasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 07, 2009

Handphone Pertama

Penemu handphone pertama di dunia, ternyata adalah seorang General Manager yang bernama Martin Cooper yang bekerja pada divisi Sistem Komunikasi di perusahaan Motorola di Amerika Serikat. Cooper dalam hal ini dibantu oleh beberapa orang anggota timnya.

Panggilan pertama yang dilakukan oleh Martin Cooper setelah berhasil menemukan handphone tersebut, bukan ditujukan kepada istrinya, keluarganya, atau tetangganya namun ditujukan kepada saingannya yang bernama Joel Engel, yang merupakan Kepala Riset Bell Labs. Panggilan tersebut dilakukan dari jalan raya di Kota New York pada tanggal 3 April 1973.

Meskipun Bell Labs yang pertama kali memiliki konsep tentang sistem selluler, dan juga sudah menerapkan konsep tersebut melalui teknologi telepon wireless pada mobil polisi, namun ternyata Motorola lah yang berhasil mewujudkannya ke dalam bentuk handphone yang bisa dibawa-bawa seperti saat ini 26 tahun kemudian...wow...

Mbahnya Handphone tersebut, tidak berbentuk seperti handphone saat ini yang stylish dan trendi juga imut-imut dan mungil, namun "hanya" berbentuk batu bata dengan berat sekitar 850 gram...berat juga yaa...


(Martin Cooper dan Handphone Pertama Penemuannya)

Secara komersial, handphone pertama yang diproduksi oleh Motorola dinamakan "DynaTAC" dengan berat sekitar 454 gram pada 10 tahun kemudian di 1983 dengan harga $3,500. Bisa dibayangin dengan kurs dolar sekarang Rp. 9000, maka harganya adalah Rp. 31.500.000.... wooooww....kalau sekarang uang segitu bisa buat beli berapa handphone ya?



Daftar Bacaan:
about.com

Jumat, Maret 13, 2009

Handphone Terbesar

dikutip dari detik.com


(Gambar Ponsel Terbesar di Dunia)

Chicago - Sebuah ponsel menarik perhatian publik di Chicago, Amerika Serikat. Sebab, ponsel yang dipajang di tempat umum tersebut sungguh luar biasa besarnya. Panjangnya kira kira 5 meter dan tingginya 4 meter.

Ponsel raksasa yang meniru model handset Samsung Messenger ini diciptakan vendor Samsung bersama operator Cricket untuk kepentingan promosi. Meski bentuknya demikian besar, ponsel ini dapat berfungsi sebagaimana ponsel pada umumnya.

Bahkan pihak Cricket mengajak warga untuk mencoba ponsel itu. Perwakilan dari lembaga rekor ternama, Guiness World Record juga diundang untuk memberikan sertifikat pada ponsel ini sebagai yang terbesar di muka bumi.

"Kami senang mengakui bahwa ponsel terbesar ini sebagai rekor Guiness baru," papar Danny Girton Jr selaku perwakilan dari Guiness sembari menambahkan bahwa ini adalah rekor pertama untuk kategori ponsel terbesar.

Dikutip detikINET dari Wireless and Mobilenews, Jumat (13/3/2009), pihak Cricket tentu berharap langkah promosi ini membuat kerja sama mereka dengan Samsung sukses. Cricket tengah menawarkan berbagai paket penjualan dengan handset Samsung, dengan produk andalannya Samsung Messenger yang dibuat replika raksasanya tersebut.

Jumat, Maret 06, 2009

Penerapan Teknologi GSM Pertama di Indonesia


Teknologi GSM (Global System for Mobile Communication) dikenal sebagai teknologi seluler generasi kedua setelah AMPS/NMT. Teknologi ini awalnya diperkenalkan dan digunakan di Eropa secara komersial pada tahun 1991 oleh Radiolinja, sebuah perusahaan operator telekomunikasi di Finlandia dengan perawatan infrastruktur tekniknya dilakukan bersama dengan perusahaan telekomunikasi Ericsson.

Di Indonesia sendiri, teknologi seluler GSM dimulai diakhir tahun 1993, tepatnya di Bulan Oktober. Pada tahun itu PT Telkom, salah satu perusahaan telekomunikasi nasional, memulai proyek percontohan seluler GSM di Pulau Batam dan Pulau Bintan. Proyek tersebut akhirnya dinilai berhasil, sehingga dilanjutkan ke provinsi lainnya di Sumatera. Hal ini mengantarkan lahirnya PT. Telkomsel pada Bulan Mei 1995 sebagai salah satu operator telekomunikasi GSM nasional.

Namun setahun setelah proyek percontohan tersebut, dan setahun sebelum didirikannya Telkomsel, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) (kemudian merger dengan PT. Indosat) telah terlebih dahulu beroperasi sebagai operator GSM pertama di Indonesia pada tahun 1994 dengan mengawali kegiatan bisnisnya di Jakarta dan sekitarnya. Dan pada penghujung tahun 1996, PT Excelcomindo Pratama (Excelcom) Berbasis GSM beroperasi di Jakarta sebagai operator nasional ketiga GSM di Indonesia.

Kini, teknologi GSM di Indonesia telah diramaikan oleh kehadiran banyak operator di Indonesia, selain juga dengan adanya teknologi CDMA, yang membuat pelanggan memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasinya.

Hingga saat ini di Indonesia pengguna teknologi GSM berjumlah 131,64 juta orang atau sebesar 57,1% dari populasi penduduk Indonesia.



Daftar Bacaan:

ilmu sejarah.com

operator seluler.com



Pengantar DWDM



Kebutuhan Transmisi Data

Dewasa ini, kebutuhan akan transmisi data dengan kapasitas besar semakin bertambah. Hal ini mengingat berbagai macam layanan telekomunikasi terus tumbuh dan menawarkan berbagai macam keragaman, yang secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah traffic (lalu lintas data). Tak ketinggalan juga kebutuhan untuk layanan jaringan internet semakin meningkat seiring dengan jumlah penggunanya yang juga terus meningkat tajam. Dengan jumlah traffic yang semakin besar serta beragam, maka penyediaan kapasitas jaringan transmisi yang mencukupi akan menjadi suatu kewajiban, utamanya pada sisi jaringan utama (backbone).

Teknologi serat optik (fibre optic), menjadi salah satu pilihan teknologi yang dapat diandalkan sebagai media yang digunakan dalam jaringan transmisi yang dapat menyediakan kapasitas transmisi data dalam jumlah yang sangat besar. Dan dengan demikian, banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi tersebut dengan membuat jaringan utamanya menggunakan kabel optik (kumpulan dari serat optik), baik itu terrestrial (darat) maupun laut.


Teknologi Multipleksing Dalam Jaringan Serat Optik

Untuk membangun suatu jaringan transmisi kabel optik yang baru dalam upaya meningkatkan kapasitasnya diperlukan biaya yang tidak sedikit, selain itu waktu dan tenaga yang juga terbatas ikut menyumbangkan kesulitan yang dihadapi dalam peningkatan kapasitas jaringan tersebut. Untuk itu dikembangkan teknologi multipleksing yang dapat menjadi solusi atas masalah tersebut.

Multipleksing adalah suatu teknik untuk menggabungkan sekaligus mengirimkan beberapa sinyal (yang berisi traffic) secara bersama-sama melalui satu saluran (kanal). Tujuan utamanya adalah untuk menghemat penggunaan saluran fisik misalnya kabel, pemancar dan penerima (transceiver), atau kabel optik. Sebagai contoh, satu helai serat optik di dalam kabel optik antara Jakarta-Batam melalui kabel laut dapat digunakan sebagai media untuk menyalurkan jutaan percakapan telepon sekaligus data internet secara bersama-sama melalui teknik multipleksing.

Salah satu jenis teknik multipleksing yang sering digunakan adalah multipleksing frekuensi (frequency division multipleksing). Dalam hal ini, rentang frekuensi yang ada, dimanfaatkan dengan cara dibagi-bagi menjadi beberapa kanal atau saluran untuk dilewati traffic. Sebagai contoh rentang frekuensi optikal antara 1530 s/d 1565 nm yang dikenal sebagai band C, dapat dibuat menjadi beberapa kanal. Misalnya antara rentang frekuensi 1543.20 nm sampai dengan 1544.00 nm dapat dibuat 4 kanal frekuensi yaitu 1543.20 nm, 1543.47 nm, 1543.73 nm, dan 1544.00 nm.

Perangkat yang berfungsi untuk menjalankan fungsi multipleksing disebut multiplekser dan perangkat yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi multipleksing atau membalik prosesnya disebut sebagai demultiplekser. Umumnya fungsi multipleksing dan demultipleksing dimiliki oleh masing-masing terminal sekaligus.


Mengapa Teknologi WDM?

WDM (wavelength division multipleksing) merupakan salah satu jenis multipleksing frekuensi. Multipleksing yang dilakukan adalah dengan membagi-bagi sinyal dalam bentuk cahaya ke dalam beberapa frekuensi tertentu. Masing-masing frekuensi tersebut akan berfungsi nantinya sebagai kanal traffic.


(Gambar 1. Contoh Jaringan Optik Sederhana)


Gambar di atas, mengilustrasikan suatu koneksi atau hubungan antara terminal A dan X, melalui suatu kanal yang disebut lambda 1 melalui satu serat optik. Bagaimana jika akan dilakukan penambahan kapasitas jaringan?Secara sederhana maka perlu ditambahkan lagi serat optik antara dua terminal tersebut. Anggap saja B sebagai terminal yang baru, harus berhubungan dengan Y pada sisi lawannya.


(Gambar 2. Pengembangan Jaringan?)



Hal ini dapat diilustrasikan oleh gambar 2. Di sini terlihat bahwa terminal A dan X terhubung melalui kanal lambda 1 pada serat optik pertama. Terminal B terhubung ke Y melalui lambda 2 pada serat optik kedua. Sekilas, cara ini kelihatan sebagai solusi yang paling mungkin. Lalu kemudian bagaimana jika akan ditambah lagi terminal yang lain?atau katakanlah bagaimana jika terminal yang akan dihubungkan berjumlah puluhan atau ratusan?

Kabel optik, terdiri dari beberapa serat optik, ada yang berjumlah 24, 48, 72 dan sebagainya. Anggap dalam suatu waktu karena kebutuhan pengembangan jaringan ternyata serat optik di dalam kabel optik tersebut terpakai semua. Maka jika akan dilakukan penambahan kapasitas yang baru, pastilah perlu dilakukan penanaman kabel baru. Namun ternyata penambahan jumlah hal ini sebagai media transmisinya, bukan merupakan solusi yang tepat. Karena pada penanaman kabel optik yang baru, selain memakan banyak waktu, juga akan menambah banyak biaya dan tenaga. Belum lagi kesulitan-kesulitan lainnya.

Untuk itulah diterapkan teknologi multipleksing (dalam hal ini WDM), sebagai solusi seandainya akan dilakukan penambahan kapasitas transmisi jaringan. Meskipun jumlah terminal semakin banyak, namun serat optik yang digunakan jumlahnya tetap seperti sediakala atau dengan kata lain tidak perlu menambah serat optik sebagai media transmisinya. Bagaimana hal ini dilakukan?



(Gambar 3. Contoh Sederhana Teknologi WDM Dalam Jaringan Optik)


Secara sederhana, teknologi WDM dapat digambarkan melalui ilustrasi di atas. Pada gambar 3, terdapat dua kanal traffic yaitu lambda 1 dan lambda 2, dimana masing-masing secara bersama-sama menggunakan satu saluran serat optik. Terminal A berkomunikasi secara langsung dengan X menggunakan kanal lambda 1 dan terminal B berkomunikasi secara langsung dengan Y menggunakan kanal lambda 2, seolah-olah masing-masing terminal memiliki saluran yang berbeda-beda meskipun menggunakan satu saluran fisik serat optik yang sama. Dengan demikian dapat dilakukan penghematan penggunaan serat optik.


Rentang Frekuensi WDM

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, teknologi WDM merupakan implementasi teknologi multipleksing frekuensi. Dalam hal ini multipleksing frekuensi cahaya yang dilewatkan melalui serat optik. Sumber cahaya atau sinar yang digunakan berasal dari LED atau LASER. Rentang frekuensi cahaya yang dihasilkan oleh LED atau LASER tersebut dikenal dengan sebutan "window", yang memiliki wavelength (panjang gelombang) berkisar antara 850 nm hingga 1700 nm. WDM sendiri memanfaatkan rentang frekuensi antara 1260 nm hingga 1675 nm, dimana rentang frekuensi tersebut juga masih terbagi atas beberapa band frekuensi yaitu O, E, S, C, L dan U.


(Gambar 4. Rentang Frekuensi / Window)

Tabel1. Rentang Frekuensi

Band

Description

Wavelength Range

O band

original

1260 to 1360 nm

E band

extended

1360 to 1460 nm

S band

short wavelengths

1460 to 1530 nm

C band

conventional ("erbium window")

1530 to 1565 nm

L band

long wavelengths

1565 to 1625 nm

U band

ultralong wavelengths

1625 to 1675 nm





Pengembangan Teknologi WDM

Dalam pengembangannya, secara umum teknologi WDM itu sendiri terbagi atas teknologi DWDM dan CWDM. Secara konsep, teknologi CWDM dan DWDM tidak terlalu berbeda. Yang membedakan antara teknologi tersebut adalah rapat atau renggangnya panjang gelombang atau lambda sebagai saluran data dan pemanfaatan jarak yang berbeda, yang mana CWDM dikhususkan untuk terminal dengan jarak yang saling berdekatan dan memiliki panjang gelombang sebagai kanal yang agak renggang. Hal-hal tersebut nantinya akan berimplikasi pada jumlah kanal dan jumlah perangkat yang digunakan yang ujung-ujungnya akan terkait dengan biaya. Secara umum CWDM lebih murah dibandingkan dengan DWDM. Berikut merupakan grafik perbandingan rapat renggangnya panjang gelombang sebagai kanal yang digunakan pada teknologi CWDM dan DWDM.


(Gambar 5. Bentuk Gelombang CWDM vs DWDM Pada Sisi Demultiplekser)



DWDM


Dense Wavelength Division Multipleksing merupakan suatu bentuk teknologi multipleks dalam transmisi data melalui jaringan optik yang umumnya digunakan untuk transmisi data yang memiliki jarak yang jauh antara satu titik terminasi (terminal) dengan titik terminasi lainnya. Jarak tersebut bervariasi antara ratusan hingga ribuan kilometer jauhnya.

Gambar berikut memberikan ilustrasi bagaimana proses multipleksing (mux) dan demultipleksing (demux) cahaya yang berfungsi sebagai carrier atau pembawa traffic dalam teknologi DWDM. Terlihat berbagai macam frekuensi cahaya yang diwakili oleh warna-warna tertentu ditransmisikan secara bersama-sama menggunakan satu kanal atau saluran bersama.


(Gambar 6. Teknologi DWDM)


Bagaimana Cara Kerjanya?


Sumber Cahaya dan Rentang Frekuensi
Sumber cahaya yang digunakan berasal dari LED ataupun LASER. Dalam teknologi ini diperlukan sumber cahaya yang memiliki nilai toleransi persebaran cahaya (dispersi) yang lebih besar serta panjang gelombang yang standar dan stabil. Oleh karena itu DWDM bekerja pada rentang frekuensi L dan C yaitu antara 1530 sampai dengan 1565 nm untuk C band dan 1565 sampai dengan 1625 nm untuk L band.

Jarak atau spacing antara 1 kanal dengan kanal lain atau 1 panjang gelombang (lambda) dengan panjang gelombang lain umumnya berkisar antara 200, 100 dan 50 GHz atau setara dengan 0.4, 0.8 dan 1.6 nm. Dan sedang dikembangkan untuk spacing yang lebih rapat pada 25 dan 12.5 GHz atau yang setara dengan 0.2 dan 0.1 nm (yang nantinya disebut sebagai Ultra DWDM). Jarak atau spacing tersebut diperlukan agar tidak terjadi interferensi atau percampuran kanal yang masing-masing terdapat sinyal traffic, sehingga proses multipleksing dan demultipleksing nantinya berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.


(Gambar 7. Spacing Antar Kanal DWDM)


Sistem DWDM




(Gambar 8. Sistem DWDM)

Secara umum sistem DWDM melakukan fungsi-fungsi sebagai berikut:

1. Menghasilkan sinyal. Sumber cahaya (LASER atau LED) harus menyediakan cahaya yang stabil dengan spesifikasi tertentu, bandwitdh yang sempit yang membawa data digital, dimodulasi sebagai suatu sinyal analog.

2. Menggabungkan sinyal. DWDM menggunakan multiplekser untuk menggabungkan sinyal-sinyal masukan.

3. Mentransmisikan sinyal. Efek degradasi sinyal atau gangguan lainnya dapat diminimalisir dengan cara mengontrol variabel-variabel yang berpengaruh seperti spacing kanal, toleransi panjang gelombang cahaya dan tingkatan daya LASER.

4. Penguatan sinyal dan regenator. Sinyal yang dilewatkan melalui serat optik harus mengalami penguatan. Penguat sinyal berfungsi untuk menguatkan sinyal yang diterima untuk diteruskan kembali, sementara regenerator selain memiliki kemampuan untuk menguatkan sinyal juga dapat memperbaiki kualitas sinyal yang diterima, sehingga sinyal keluarannya memiliki kualitas yang baik.

Terdapat 2 tipe penguat optikal yaitu:

1. Solid State Optical Amplifier berupa penguat optikal yang terbuat dari bahan semikonduktor.
2. Fiber Amplifier berupa penguatan pada serat optik yang terbagi atas EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) dan Raman Amplifier.

Sementara untuk jenis penguatan sinyal di dalam serat optik sendiri terdapat 3 macam yakni post ampifier, pre amplifier dan line amplifier. Pada gambar di bawah di tunjukkan ilustrasi tentang penguatan tersebut. Saat sinyal mulai ditransmisikan, maka dilakukan penguatan melalui post amplifier. Pada saat sinyal melewati serat optik, maka dilakukan penguatan kembali melalui line amplifier. Selain itu, line amplifier juga berfungsi untuk memperbaiki sinyal yang diterima sehingga pada saat akan dikirimkan kembali, sinyal menjadi bagus seperti semula. Pada sisi akhir, saat sinyal akan diterima kembali, maka dilakukan penguatan melalui pre amplifier.


(Gambar 8.a. Ilustrasi Penguatan Sinyal)


5. Memisahkan sinyal yang diterima. Pada sisi penerima akhir, sinyal yang tadinya dimultipleks, harus dipisahkan melalui demultiplekser.

6. Menerima sinyal. Sinyal yang telah didemultipleks diterima oleh suatu photodetector.

Sebagai fungsi tambahan, sistem DWDM harus juga dilengkapi dengan antarmuka (interface) dengan sisi client untuk menerima sinyal masukan oleh suatu perangkat yang dinamakan transponder. Transponder berfungsi untuk mengubah sinyal masukan dari sisi client atau perangkat lain yang memiliki jenis traffic yang berbeda ke dalam jenis sinyal yang dikenal dan dapat ditransmisikan oleh sistem WDM.

Terdapat fungsi lain dari perangkat pada sistem DWDM yaitu ADM (Add/Drop Multiplekser) dan OXC (Optical Cross Connect). ADM diperlukan jika antara dua terminal yang saling terhubung akan diintegrasikan atau disisipkan terminal lain. Fungsi ADM juga dilakukan oleh sebuah multiplekser dan demultiplekser.


(Gambar 8.b Sistem DWDM Dengan ADM)


Optical cross connect atau OXC diperlukan jika akan melakukan integrasi atau interkoneksi beberapa jaringan optik menjadi satu jaringan. OXC terdiri atas mux/demux dan juga switching optikal. Berikut merupakan ilustrasi OXC dalam jaringan optik.



(Gambar 8.c. OXC Dalam Jaringan Optik)



Kelebihan dan Kekurangan Teknologi DWDM

Kelebihan Teknologi DWDM:
1. Kapasitas yang jauh lebih besar
2. Pengembangan jaringan yang lebih mudah.
3. Dapat digunakan pada jarak terminal yang jauh.
4. Kemudahan menambah kapasitas, tidak seperti pada sistem lain.

Kekurangan Teknologi DWDM:
1. Untuk kapasitas kanal yang sedikit biaya yang dikeluarkan tidak efektif
2. Meskipun telah dirancang sedemikian rupa, masih ada potensi gangguan transmisi akibat sifat-sifat alami cahaya, seperti crosstalk, efek non linear, dispersi dan sebagainya.


Kesimpulan

Di tengah tantangan yang dihadapi untuk pengembangan kapasitas jaringan saat ini, DWDM dapat menjadi salah satu pilihan solusi yang tepat. Meskipun terdapat beberapa kelemahan DWDM sebagai suatu sistem, namun berbagai keunggulan dan kemudahan yang ditawarkan dapat menjadi nilai tambah pemanfaatan teknologi ini.



Sumber bacaan:
wikipedia


Minggu, Maret 01, 2009

Pola Penyandian Huffman Berdasar Statistika Penggunaan Huruf-huruf Alfabet Pada Bahasa Indonesia

Abstrak

Penyandian Sumber, merupakan salah satu mekanisme yang digunakan untuk mengatasi berbagai keterbatasan kapasitas ruang baik untuk penyimpanan, maupun pengiriman informasi. Menurut Shannon, nilai rata-rata simbol biner per keluaran sumber dapat digunakan untuk mendekati entropi sumber asli. Efisiensi sumber sendiri dapat dihasilkan dari penyandian sumber tersebut.

Sistem penyandian Huffman merupakan sistem penyandian sumber yang sangat optimal karena menghasilkan sandi yang nilainya mendekati nilai entropinya. Dalam penerapannya, harus dilakukan proses statistis untuk mengetahui nilai rerata informasi sumber. Yang dihasilkan dari penyandian ini berupa pemampatan terhadap data sumber. Pada penelitian ini, dilakukan penerapan penyandian Huffman (statis) pada Bahasa Indonesia umum tertulis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas pemampatan yang dihasilkan. Terlebih dahulu dilaksanakan penelitian rerata muatan informasi pada Bahasa Indonesia dengan memperhitungkan kegayutan antar karakter hingga orde ke-3 sebagai dasar penyusunan sistem penyandian Huffman.

Sandi yang diperoleh diuji menggunakan pertidaksamaan Kraft dan diterapkan juga pada teks Bahasa Inggris.





A. Pendahuluan

Pengolahan informasi diperlukan untuk keamanan data, kemudahan dalam transmisi, pemanfaatan ruang yang terbatas, dan sebagainya. Diperlukan suatu cara untuk mengolah informasi agar muatan informasinya tidak hilang. Hilangnya muatan informasi, menyebabkan informasi tidak dapat diketahui maknanya.

Ilmu statistik digunakan untuk mencari nilai rerata muatan informasi (entropi) yang terkandung dalam suatu sumber pesan. Kandungan entropi tersebut dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai penyandian sumber. Penyandian Sumber dilakukan sebagai salah satu cara untuk memanfaatkan kapasitas ruang yang terbatas.


B. Dasar Teori.

Pada Sumber informasi, terdapat nilai rerata muatan informasi yang dinyatakan dengan entropi (H). Teori informasi menggunakan istilah entropi sebagai suatu ukuran tentang berapa banyak suatu informasi disandikan di setiap pesan. Semakin tinggi nilai entropi dari suatu pesan, maka akan semakin banyak informasi yang dikandungnya.



Prinsip pemisahan Shannon menyatakan bahwa nilai rerata simbol-simbol biner per keluaran sumber dapat digunakan untuk mendekati entropi sumber. Penyandian Sumber dengan demikian diterapkan untuk mengurangi jumlah bit yang akan disimpan atau ditransmisikan. Dengan kata lain, efisiensi sumber dapat dihasilkan dari penyandian sumber.



Sumber informasi diskret terdiri atas sumber diskret dengan memori dan tanpa memori. Pada sumber diskret dengan memori kemunculan suatu simbol pada suatu pesan tidak saling bebas, melainkan tergantung pada simbol yang sudah muncul sebelumnya. Dengan demikian kombinasi simbol keluarannya mengikuti orde tertentu yang dapat dijelaskan melalui proses Markov. Markov orde-0 untuk simbol yang secara statistik berdiri sendiri, Markov orde-1 untuk kombinasi 2 simbol (digram), Markov orde-2 untuk kombinasi 3 simbol (trigram) dan orde-3 untuk kombinasi 4 simbol (tetragram). Perolehan entropi pada orde Markov yang semakin tinggi akan semakin menurun.

Penyandian Huffman merupakan sistem penyandian sumber berbasis entropi yang paling optimal. Hal ini disebabkan nilai entropi pada penyandian mendekati nilai entropi pada sumber.


C. Perancangan

Perancangan dimulai terlebih dahulu dengan melakukan proses statistik terhadap teks tertulis Bahasa Indonesia. Setelah diketahui frekuensi pemunculannya, maka dilakukan penghitungan terhadap entropinya. Hal ini dilakukan untuk masing-masing kombinasi 1, 2, 3 dan 4 karakter.

Setelah diperoleh nilai entropinya, maka kombinasi karakter disusun dengan dimulai pada jumlah yang terbesar. Dari urutan tersebut dilakukan proses penyandian menggunakan algoritma Huffman.

Alur penelitian adalah sebagai berikut:




D. Hasil dan Pembahasan

Diperoleh hasil bahwa pada kombinasi karakter yang semakin banyak (Orde Markov yang semakin tinggi), entropi yang dihasilkan akan semakin menurun. Dengan demikian muatan informasinya akan semakin tinggi. Hal ini berarti bahwa untuk kegayutan pada orde Markov yang semakin tinggi , hilangnya salah satu kombinasi karakter dapat menyebabkan hilangnya kandungan informasi yang dibawa oleh suatu berita.



Setelah dilakukan penyandian menggunakan algoritma Huffman statis, diperoleh hasil bahwa nilai entropi sumber asli cenderung mendekati nilai entropi pada sandi. Hal ini membuktikan bahwa penyandian Huffman merupakan penyandian berbasis entropi yang paling optimal.



Penerapan hasil penyandian berbasis entropi pada Bahasa Indonesia dilakukan terhadap teks dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang terdiri atas 1000, 2500 dan 5400 karakter untuk mengetahui sejauh mana unjuk kerja dan perbandingan penyandian yang dihasilkan tersebut.





Dari perbandingan terhadap gambar 5, 6 dan 7 dapat terlihat bahwa sandi Huffman yang dihasilkan memiliki tingkat perbandingan antara berkas asli dan hasil penyandian yang sangat optimal bila diterapkan pada Bahasa Indonesia dan hal ini berbanding lurus terhadap kombinasi karakter yang semakin tinggi.


E. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada laporan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Rerata muatan informasi dalam teks tertulis dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyandian, khususnya penyandian sumber berbasis entropi.
  2. Nilai entropi untuk karakter saling gayut akan semakin mengecil seiring dengan bertambahnya gayutan dan semakin kecil nilai entropi suatu karakter, semakin tinggi kandungan informasinya. Untuk karakter sebanyak sekitar 800.000 pada gayutan 1 hingga 4 diperoleh nilai entropi berturut-turut sebesar 4,012 bit/simbol; 3,6046 bit/simbol; 3,33547 bit/simbol dan 3,0588 bit/simbol.
  3. Penyandian Huffman statis merupakan penyandian sumber berbasis entropi yang memenuhi syarat-syarat sebagai sandi instan yang terawasandikan unik. Dan diperoleh nilai entropi hasil penyandian yang mendekati nilai entropi sumber berturut-turut dari kombinasi 1 hingga 4 karakter sebesar 4,015 bit/simbol; 3,649 bit/simbol; 3,3585 bit/simbol dan 3,0768 bit/simbol.
  4. Perbandingan hasil penyandian menunjukkan bahwa penyandian menggunakan kombinasi 4 karakter memiliki kompresi paling optimal dengan perbandingan jumlah bit hasil penyandian terhadap bit sumber sebesar 35 %.


Kabel laut terpanjang



Kabel laut itu apaan sih?


Kabel laut merupakan salah satu media transmisi menggunakan kabel yang diletakkan atau ditanam di dasar lautan. Kabel laut membentuk suatu jaringan telekomunikasi yang dapat menghubungkan beberapa perangkat telekomunikasi di berbagai lokasi.


Terus...

Kabel laut terpanjang di dunia yang melintas antar benua adalah kabel SEA-ME-WE 3. Nama tersebut berasal dari lintasan yang dilewati oleh bentangan kabel laut yaitu South East Asia (Asia Tenggara), Middle East (Timur Tengah) dan West Europe (Eropa Barat), dan angka 3 sendiri menyatakan bahwa itu adalah jalur kabel laut yang dibangun yang ke sekian kalinya (hingga kini telah dibangun SEA-ME-WE 4).

Hampir setara dengan keliling bumi sekitar 40.000 km, kabel laut SEA-ME-WE 3 terbentang sejauh 39000 km, yang terdiri atas 10 segment yang menghubungkan 39 landing point di sepanjang Eropa Utara, Asia dan Australia.


Berapa ya kapasitasnya?

Kapasitas kabel laut tersebut awalnya didesain untuk membawa transmisi data hingga 2,5 Gbit/s pada awal tahun 2000 dan diupgrade hingga mencapai kapasitas 10Gbit/s pada tahun 2007. Atau setara dengan 10 miliyar (10.000.000.000) bit tiap detiknya. Wow...kapasitas yang sangat besar sekali waktu itu (meskipun saat ini teknologi sudah sangat memungkinkan untuk kapasitas hingga lebih dari 1000 milyar bit tiap detiknya).



(Gambar Jalur SEA-ME-WE 3)


Wah...kabel sepanjang itu yang punya siapa?

SEA-ME-WE 3 sendiri dimiliki bareng-bareng oleh konsorsium (gabungan bersama) yang terdiri atas 33 negara dan 92 operator telekomunikasi di dunia, yang terletak di 4 benua termasuk salah satunya Indonesia. Untuk Indonesia sendiri, konsorsium tersebut diwakili oleh PT. Indosat.


Kapan dibangun?

Project SEA-ME-WE 3 ditandatangani pada tahun 1997, dan difungsikan sepenuhnya pada Maret 2000, yang menggunakan teknologi WDM. Jaringan kabel laut tersebut dibangun dengan menghabiskan dana sebesar $1.300 M atau dengan kurs Rp. 9000 maka menjadi sekitar Rp. 11.700.000.000.000. (Rp. 11,7 Trilyun).


Wah...kalau dibeliin permen dapat berapa bungkus ya?

Memang sih, uang yang dikeluarkan sebanding dengan fungsi yang diemban oleh jaringan tersebut, yang bisa membuat sekitar 4 miliyar penduduk dunia saling terhubung, yang merupakan 3/4 dari seluruh jumlah penduduk di planet ini.


Uhmm...banyak banget....lalu kalau di laut, kabelnya bisa putus ga?

Meskipun ditanam atau diletakkan di dasar lautan yang dalam, namun bukan berarti kabel laut terbebas dari masalah. Kabel laut juga ternyata sangat rentan terhadap gangguan. Potensi gangguan yang muncul, yang menyebabkan kabel laut sering terputus umumnya akibat terkena jangkar kapal, jaring nelayan (pukat harimau), atau akibat bencana alam seperti gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Taiwan.




Daftar Bacaan:
Fujitsu
bnet
wikipedia